thumb2

Sekilas Info

Terletak di Pantai Utara sebelah Timur Provinsi Jawa Barat. Masuk dalam wilayah administrasi Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Masuk dalam wilayah Musyawarah Pelayanan (MUPEL) Jawa Barat (Jabar) 1.

Pada tanggal 30 Oktober 1948, sesuai dengan keputusan Sinode Am ke III GPI mensahkan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) sebagai Gereja yang berdiri sendiri. Jemaat-jemaat GPIB pada tanggal 31 Oktober 1948 terdiri dari 53 Jemaat dan terbagi atas 7 klasis dan terdapat di Pulau Jawa, Madura, Kalimantan dan Sulawesi.

Jemaat GPIB Cirebon termasuk salah satu jemaat klasis Jawa barat yang jumlahnya 9 jemaat : 1. Jakarta, 2. Tanjung Priuk, 3. Jatinegara. 4. Depok, 5. Bogor, 6. Cimahi, 7. Bandung, 8. Cirebon, 9. Sukabumi.

Melalui catatan sejarah pada tanggal 31 Oktober 1948 jemaat Cirebon merupakan jemaat GPIB di Klasis Jawa Barat, namun dalam perkembangannya jemaat ini menjadi kurang jelas keberadaannya. Gedung Gereja yang dipakai Gereja Kristen Pasundan (GKP) jalan Yosudarso No.10 adalah milik De Indische Kerk yang pada tanggal 31 Oktober 1948 diresmikan menjadi GPIB.

Menyadari pentingnya kehadiran jemaat GPIB di Cirebon maka pada bulan Juli 1977 Pendeta Anna Rondo Wokas sebagai Pendeta GPIB ditugaskan melayani jemaat, atau membantu pelayanan jemaat GKP dan juga sebagai STAF Departemen Agama Bimas Kristen. Selain itu pula Majelis Sinode GPIB menugaskan Pendeta Anna Rondo Wokas untuk mengaktifkan kembali jemaat di Cirebon.

Sehingga pada tanggal 30 Oktober 1981, diadakan upacara pengaktifan kembali GPIB Cirebon oleh Pendeta Simauw.S.Th sebagai Ketua Mupel Jabar, mewakili Majelis Sinode Jakarta. Jumlah Kepala Keluarga pada saat itu sebanyak 30 Kepala Keluarga. Tempat ibadah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, karena gedung Gereja telah dihibahkan Majelis Sinode kepada GKP. Dimulai dari gedung YAKIN berpindah ke Gereja Bethel Indonesia, GKI Pamitran sampai dengan bulan juni tahun 1987. Selanjutnya dibangun Gedung Gereja yang menjadi tempat ibadah sekarang ini.

Peletakan batu pertama pada tanggal 2 September 1984 dan Pentahbisan gedung Gereja “Getsemani” Cirebon pada tanggal 11 Juni 1989 oleh Majelis Sinode Pendeta Simauw.S.Th dan prasasti ditanda tangani oleh Walikota Cirebon. Drs. Kumaedi Syafrudin.

Kondisi dan keberadaan jemaat sangatlah majemuk mengingat kebanyakan warga jemaat adalah orang-orang perantau dari suku Ambon, Menado, Timor maupun Batak dll. Pekerjaan dan profesi jemaat juga berfariasi, mulai dari Pegawai Negeri Sipil, Pensiunan PNS dan ABRI, Pegawai dan Pensiunan Pertamina, Buruh Pabrik, Wiraswasta, dan Pedagang. Wilayah pelayanan meliputi daerah Indramayu, Kuningan dan Majalengka sampai dengan perbatasan Tegal (Jawah Tengah).